Langsung ke konten utama

Melihat kepedulian di Share EAT

Awalnya aku mau pakai blog ini sebagai tempat curhat asal-asalan. Tapi terus keinget sama kata-kata idola gue, seorang vlogger juga sekaligus blogger, namanya mbak Gitasav. Mbak Gita selalu berusaha agar content vlog dan blognya itu adalah sesuatu yang bermanfaat buat orang lain. Jadi ceritanya aku terinspirasi gitu. Finally, aku putusin buat ngisi blog ini dengan sesuatu yang berguna. Walaupun aku juga ga yakin bakal ada yang buka blog ini apa enggak. Tapi bodo amat lah yang penting aku udah niat baik. Udah gitu aja.

Jadi ceritanya tadi jam 9 p.m., for the first time aku gabung jadi volunteer di SHARE EAT.
Apa itu SHARE EAT?
share=berbagi
eat=makan
Berbagi makan?
Yup, betul banget. Jadi SHARE EAT ini organisasi yang berisi relawan-relawan mahasiswa yang membagikan makanan kepada para tunawisma. Acara pembagian makan ini dilaksanakan rutin setiap seminggu sekali, dan waktunya selalu malam hari diatas jam 9. Tempat pembagiannya ada 4 zona di wilayah solo. Makanan-makanan yang tersedia dibagikan kepada para tunawisma di sepanjang jalan di 4 zona tersebut. Asal makanannya berasal dari 2 tempat makan yang menjadi donatur tetap ditambah dengan nasi kotak-nasi kotak yang terbeli dari uang sumbangsih donatur-donatur tidak tetap.

Organisasi ini belum berdiri lama. Acara tadi adalah acara pembagian makan di minggu ke-enam sejak berdirinya SHARE EAT. Dan kami masih membutuhkan banyak bantuan tangan-tangan relawan untuk bergabung bersama kami.

Yang mau aku sampein disini adalah rasa kekaguman aku sama para founder dari organisasi ini. Yang aku denger sekilas tadi dari temen aku, pemikiran terbentuknya SHARE EAT ini berasal dari ide satu orang, terus dipasang status gitu di socmed, terus orang-orang yang punya jiwa peduli yang sama akhirnya berkumpul gitu dan membentuk SHARE EAT ini. Terus kebetulan ada mahasiswa pemilik dari sebuah tempat makan yang lumayan terkenal gitu ternyata udah punya niatan buat ngadain program bagi-bagi makanan bagi yang membutuhkan juga. Akhirnya share eat bertemu dengan mahasiswa pemilik tempat makan tersebut yang sekarang menjadi donatur tetap kami.

Nah, pas tadi aku ikutan gabung, ternyata ada beberapa temen yang baru gabung juga. Rasanya kaya bahagia banget bisa ngeliat kenyataan bahwa ternyata masih banyak orang yang peduli tentang sesuatu yang harus dipedulikan. Karena selama ini, aku liat kebanyakan mahasiswa malah sibuk dengan membuang uang dan waktunya buat hal-hal yang sifatnya hura-hura aja. Kebanyakan dari kita biasanya sibuk ngurusin eksistensi diri sendiri aja.

Parahnya, banyak ditemukan temen-temen kita yang depresi karena hal-hal sepele. Padahal sudah diberi kehidupan yang layak. Ga sekedar layak, tapi layak banget. Tapi mereka malah depresi karena mikirin hal-hal kecil. Mereka mendongak terus keatas dan lupa untuk menunduk kebawah. Melihat keatas memang ga ada ujungnya kalau mau diturutin. Kita ga boleh lupa dengan orang-orang dibawah yang perlu uluran tangan kita.

Menurut aku, bahagia itu memang datangnya dari bersyukur. Kalau bersyukur aja masih susah, maka bahagia pun pasti susah didapat. Gimana caranya bersyukur? Ya dengan menengok kebawah. Bagaimana caranya menengok kebawah? Ya dengan ikut acara-acara gini yang memberi jalan ke kita buat mengulurkan tangan kita ke bawah. Jadi, mari ulurkan tangan kita ke bawah. Kalau buat aku pribadi, ada rasa kepuasan tersendiri setelah aku melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Aku gabisa ngegambarin rasa itu. Pokoknya rasanya seneng dan bangga aja ke diri sendiri.

Aku gatau tulisan ini isinya sebenarnya mutu apa engga, nyambung apa engga ceritanya, yang penting aku udah cerita. Aku udah bela-belain cerita ditengah-tengah jam upload olshop dan ngelawan kantuk.

Semoga yang baca berminat buat gabung sama SHARE EAT yaa
If you want to join, you can contact me via DM yaa. ;))


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragu

Entah angin apa lagi yang datang malam ini, yang membawa sisa luka kembali. Entah kenapa berkali-kali aku meragu, entah sedang meragukan diriku, atau meragukan dirinya. Entah karena dia pantas untuk diragukan, atau karena bekas sakit yg pernah kurasakan. Aku selalu menginginkan pembuktian tak berujung. Tiba-tiba tanpa sebab, entah firasat, atau hanya perasaan sesat. Yang jelas aku ragu, apakah kamu penipu? Jika kamu adalah orang yg benar, maka tolong ajarkan aku tentang percaya. Karena sepertinya aku sudah lupa bagaimana cara mencintai dengan mempercayai sepenuh hati. Apa memang lebih baik demikian? Bahwa kamu memang pantas diragukan? Hey kamu, sepertinya aku sudah kelewat batas. Tembok pertahananku sudah runtuh. Aku terlanjur menyayangi, Bagaimana ini? Aku benar-benar trauma dikhianati. Aku tidak mau sakit itu terulang lagi. Aku sangat sangat frustasi. Jika kamu adalah laki-laki brengs*k lainnya, maka cukup sudah, mari kita akhiri.

Genap 5 bulan pernikahan

 Hari ini genap sudah 5 bulan pernikahan kami. Banyak orang bertanya, 'bahagiakah?' 'nyamankah?' Mau menuliskan jawabannya saja jariku bergetar, mataku mulai berkaca kaca. Huh. Bahagia. Kata yg sangat kurindukan karena lama tak terucap dari hati. Tentang perbedaan. Ya, ternyata banyak perbedaan. Dan aku berada di kolam perbedaan. Hampir tenggelam. Sudah sulit bernapas.  Teringat pesan salah satu sahabatku, "ingat! Lillahita'ala. Semua yg kita lakukan adalah untuk Allah SWT." Kata kata ini merekahkan senyuman. Bukan menguatkan, bukan. Aku hanya akan pasrah jatuh tenggelam. Aku sudah kehabisan tenaga untuk berenang. Aku sudah sangat lelah. Setidaknya aku tenggelam sambil tersenyum. Aku dalam keadaan tersadar bahwa semua ini datangnya dari Allah SWT. Kupercayakan semua ini padaNya. Aku adalah hamba yg tidak berdaya. Kukira kami kuat berpegangan dan berjuang berenang bersama. Ternyata dia sudah menyerah tenggelam lebih awal. Tersisa diriku sendiri. Jadi untuk ...

Sampah

Rasanya akhir-akhir ini dunia berputar terlalu cepat, Tiba-tiba diatas, dalam sekejap sudah berpindah kebawah, Diangkat ke atas langit secepat kilat, kemudian dijatuhkan ke bumi tanpa siap. Remuk sudah batin yang membatin ini. Terkadang memandang itu lebih mudah daripada melakukan, Sabar, sabar... Ingatkanku pada diri sendiri setiap waktu. Namun, apalah aku, hanya manusia yg kurang bersyukur, yg tetap tidak bisa bertahan dalam banyak keluh, Dasar jiwa yg lemah Butuh sandaran Butuh pelukan Butuh ada yg bilang kalau ini semua baik baik saja Hiks Nangis kadang jadi penyembuh luka semalam, bsoknya kambuh lagi Sungguh ingin dipeluk ibu layaknya bayi yg lagi di cup cupin pas nangis Sayangnya aku adalah manusia dewasa yang sudah terlanjur tau bahwa beban ibu lebih berat dariku, yah aku hanya akan menambah beban saja Kenapa dewasa itu berat?