Langsung ke konten utama
Dia #1
Adalah dia yang aku maksud di postingan 'menye-menye'.
Ehm. Mengenang masa lalu~
Aku tulis kenangan tentangnya bukan berarti aku tidak bisa move on darinya, tapi hanya sekedar ingin bercerita dan tak ingin melupakan, karena kenangan yg indah, menurutku memang patut untuk diingat. Sekali lagi, ini hanyalah tentang kenangan. Kami berdua, aku dan dia, bahkan telah melewati episode lain kisah cinta kita masing-masing. Dia yang aku suka adalah dia pada masa yang aku ceritakan dibawah ini. Sekarang, kami berdua bukanlah orang yg sama dengan kami pada masa itu. 

Story begins...

Dia, adalah orang selalu membuatku tersenyum ketika berada di dekatnya. Bukan hanya berada dekat secara fisik, dekat dalam 'chat' pun bisa buat aku gabisa tidur semalaman. Dia itu benar-benar candu ku pada masa itu. Sedangkan, definisi 'selalu tersenyum' dalam arti dekat secara fisik adalah aku benar-benar gabisa menahan senyumku untuk tdk mengembang ketika bersama dia. Sampai-sampai pernah kita jalan bareng temen-temen, dan salah satu temenku bilang 'vera kenapa sih? Senyum-senyum terus..' . Nah begitu lah aku seperti gila dibuatnya. Jangankan dekat sampai lihat raganya, denger dia ngomong dibalik pintu ketika hendak bertemu aja senyumku udah mengembang sampai pollll wkwkwkwk. Luar biasa sukanya aku sama dia...

Dia adalah yg paling pintar membuat aku berkali-kali jatuh hati padanya. Dia adalah orang yg bisa bergaul di kalangan mana saja, jd nyaman gitu rasanya. Dia dulu adalah orang yg konyol dan lucu banget nget nget. Tapi semakin dia tumbuh dewasa, dia semakin serius dan tegas. Ya seperti yg aku bilang dlm chapter 'menye-menye'. Kalau dia bilang A berarti A. Kalau B berarti B.

Teringat masa-masa dimana sahabatnya bilang k aku bahwa si 'dia' menyukaiku. Pada waktu itu, bahkan, aku tidak menyadarinya, karena rasanya tidak mungkin. Lalu sahabatku lah yg memastikannya. Sahabatku bilang Dia yang selalu memandangku ketika aku tidak memperhatikannya. Dia bahkan tahu segala sesuatu tentangku, tapi dia kadang pura-pura lupa atau berlaga seolah tidak tahu. Dia adalah orang yg paling abstrak. Sulit sekali menebak-nebak apa yg ada dalam pikiran dan hatinya. Masih teringat pula perjuanganku memahaminya. Ingat, dia tdk suka menye-menye. Melihat status media sosialnya saja membutuhkan pikiran dan tenaga ku untuk mencari tahu arti sebenarnya. Dia biasanya hanya menampilkan sebuah judul lagu, dan biasanya aku tdk tahu lagu-lagu itu, biasanya juga lagunya dalam bahasa inggris, aku harus mencari lirik dan makna lagunya utk tahu apa yg sedang dia pikirkan atau rasakan. Walopun terkadang masih ambigu. 

------------------------

Seperti biasa, gangguan otakku kembali terjadi, dimana dia berjalan lbh cepat dr jari-jariku sehingga aku kehilangan bagian cerita yg tadinya sudah menggebu-gebu untukku tuliskan. Ditambah, pms menyerang yg membuat moodku mjd sedikit negative. Jadi lbh baik kuakhiri saja sesi curhatku sementara ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragu

Entah angin apa lagi yang datang malam ini, yang membawa sisa luka kembali. Entah kenapa berkali-kali aku meragu, entah sedang meragukan diriku, atau meragukan dirinya. Entah karena dia pantas untuk diragukan, atau karena bekas sakit yg pernah kurasakan. Aku selalu menginginkan pembuktian tak berujung. Tiba-tiba tanpa sebab, entah firasat, atau hanya perasaan sesat. Yang jelas aku ragu, apakah kamu penipu? Jika kamu adalah orang yg benar, maka tolong ajarkan aku tentang percaya. Karena sepertinya aku sudah lupa bagaimana cara mencintai dengan mempercayai sepenuh hati. Apa memang lebih baik demikian? Bahwa kamu memang pantas diragukan? Hey kamu, sepertinya aku sudah kelewat batas. Tembok pertahananku sudah runtuh. Aku terlanjur menyayangi, Bagaimana ini? Aku benar-benar trauma dikhianati. Aku tidak mau sakit itu terulang lagi. Aku sangat sangat frustasi. Jika kamu adalah laki-laki brengs*k lainnya, maka cukup sudah, mari kita akhiri.

Genap 5 bulan pernikahan

 Hari ini genap sudah 5 bulan pernikahan kami. Banyak orang bertanya, 'bahagiakah?' 'nyamankah?' Mau menuliskan jawabannya saja jariku bergetar, mataku mulai berkaca kaca. Huh. Bahagia. Kata yg sangat kurindukan karena lama tak terucap dari hati. Tentang perbedaan. Ya, ternyata banyak perbedaan. Dan aku berada di kolam perbedaan. Hampir tenggelam. Sudah sulit bernapas.  Teringat pesan salah satu sahabatku, "ingat! Lillahita'ala. Semua yg kita lakukan adalah untuk Allah SWT." Kata kata ini merekahkan senyuman. Bukan menguatkan, bukan. Aku hanya akan pasrah jatuh tenggelam. Aku sudah kehabisan tenaga untuk berenang. Aku sudah sangat lelah. Setidaknya aku tenggelam sambil tersenyum. Aku dalam keadaan tersadar bahwa semua ini datangnya dari Allah SWT. Kupercayakan semua ini padaNya. Aku adalah hamba yg tidak berdaya. Kukira kami kuat berpegangan dan berjuang berenang bersama. Ternyata dia sudah menyerah tenggelam lebih awal. Tersisa diriku sendiri. Jadi untuk ...

Sampah

Rasanya akhir-akhir ini dunia berputar terlalu cepat, Tiba-tiba diatas, dalam sekejap sudah berpindah kebawah, Diangkat ke atas langit secepat kilat, kemudian dijatuhkan ke bumi tanpa siap. Remuk sudah batin yang membatin ini. Terkadang memandang itu lebih mudah daripada melakukan, Sabar, sabar... Ingatkanku pada diri sendiri setiap waktu. Namun, apalah aku, hanya manusia yg kurang bersyukur, yg tetap tidak bisa bertahan dalam banyak keluh, Dasar jiwa yg lemah Butuh sandaran Butuh pelukan Butuh ada yg bilang kalau ini semua baik baik saja Hiks Nangis kadang jadi penyembuh luka semalam, bsoknya kambuh lagi Sungguh ingin dipeluk ibu layaknya bayi yg lagi di cup cupin pas nangis Sayangnya aku adalah manusia dewasa yang sudah terlanjur tau bahwa beban ibu lebih berat dariku, yah aku hanya akan menambah beban saja Kenapa dewasa itu berat?