Langsung ke konten utama

Menye-menye

Ini adalah minggu PTS dimana aku memberikan waktu untuk diriku sendiri untuk rehat dari banyaknya waktu sibuk yg sudah aku lewati dan yang akan aku hadapi.

Waktu yg seperti ini mengingatkanku pada kisah dimana aku mulai lebih menyukai 'sibuk'ku. Ya, sejak seseorang memperkenalkanku dgn kata 'menye-menye'. 

Masih teringat kala itu dimana aku sedang berada di kobaran api 'jatuh cinta' yg mana hatiku dibuat layaknya roller coaster yg sedang berlari pada relnya. Waktu itu, menerima balasan pesan darinya jam 3 pagi saja kutunggu dgn setia dan sabarnya. Ya sangat sabar, karena pesanku terkirim sejak sore hari sebelumnya sekitar pukul 19.00. Waktu itu bahkan aku sangat berpositive thinking bahwa si 'dia' memang sibuk karena jurusan kuliahnya memang sulit dan dia berkuliah d universitas yg gengsinya 3 tingkat diatas universitasku, yg sampai sekarang pun aku tdk tahu faktanya bagaimana. 
Suatu saat, aku memberikan komentar padanya d sebuah medsos dgn semangat dan penuh senyum, yg aku lupa bagaimana pesanku sendiri itu, dan ketika itulah dia memperkenalkanku pada kata 'menye-menye'.
'Udah ah, jangan menye-menye' begitu balasannya padaku. Astagaaa...

Tapi, yg namanya 'suka', segala yg menyebalkan itu tetap aku terima. Karena 'suka' itu kadang sama sekali tak bisa dikontrol. Yang jelas, dengan segala omelannya kala itu, adalah bagian yg membuatku menjadi aku yg sekarang, aku yg lbh kuat, yang sebagian besar diriku, menurutku, telah meninggalkan 'menye-menye' itu. Ya, dia tetaplah seseorang yg bisa jadi penunjuk arah bagiku. Aku menyukai orang-orang yang bisa melangkahkan kakinya tanpa ragu pada tujuannya. Karena aku hanyalah follower setia yg kadang kehilangan arah wkwk. 

Perlu digaris bawahi, ini adalah cerita kala 'itu'. Yang berarti perasaan kala 'itu' juga terjadi pada masa 'itu'.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragu

Entah angin apa lagi yang datang malam ini, yang membawa sisa luka kembali. Entah kenapa berkali-kali aku meragu, entah sedang meragukan diriku, atau meragukan dirinya. Entah karena dia pantas untuk diragukan, atau karena bekas sakit yg pernah kurasakan. Aku selalu menginginkan pembuktian tak berujung. Tiba-tiba tanpa sebab, entah firasat, atau hanya perasaan sesat. Yang jelas aku ragu, apakah kamu penipu? Jika kamu adalah orang yg benar, maka tolong ajarkan aku tentang percaya. Karena sepertinya aku sudah lupa bagaimana cara mencintai dengan mempercayai sepenuh hati. Apa memang lebih baik demikian? Bahwa kamu memang pantas diragukan? Hey kamu, sepertinya aku sudah kelewat batas. Tembok pertahananku sudah runtuh. Aku terlanjur menyayangi, Bagaimana ini? Aku benar-benar trauma dikhianati. Aku tidak mau sakit itu terulang lagi. Aku sangat sangat frustasi. Jika kamu adalah laki-laki brengs*k lainnya, maka cukup sudah, mari kita akhiri.

Genap 5 bulan pernikahan

 Hari ini genap sudah 5 bulan pernikahan kami. Banyak orang bertanya, 'bahagiakah?' 'nyamankah?' Mau menuliskan jawabannya saja jariku bergetar, mataku mulai berkaca kaca. Huh. Bahagia. Kata yg sangat kurindukan karena lama tak terucap dari hati. Tentang perbedaan. Ya, ternyata banyak perbedaan. Dan aku berada di kolam perbedaan. Hampir tenggelam. Sudah sulit bernapas.  Teringat pesan salah satu sahabatku, "ingat! Lillahita'ala. Semua yg kita lakukan adalah untuk Allah SWT." Kata kata ini merekahkan senyuman. Bukan menguatkan, bukan. Aku hanya akan pasrah jatuh tenggelam. Aku sudah kehabisan tenaga untuk berenang. Aku sudah sangat lelah. Setidaknya aku tenggelam sambil tersenyum. Aku dalam keadaan tersadar bahwa semua ini datangnya dari Allah SWT. Kupercayakan semua ini padaNya. Aku adalah hamba yg tidak berdaya. Kukira kami kuat berpegangan dan berjuang berenang bersama. Ternyata dia sudah menyerah tenggelam lebih awal. Tersisa diriku sendiri. Jadi untuk ...

Sampah

Rasanya akhir-akhir ini dunia berputar terlalu cepat, Tiba-tiba diatas, dalam sekejap sudah berpindah kebawah, Diangkat ke atas langit secepat kilat, kemudian dijatuhkan ke bumi tanpa siap. Remuk sudah batin yang membatin ini. Terkadang memandang itu lebih mudah daripada melakukan, Sabar, sabar... Ingatkanku pada diri sendiri setiap waktu. Namun, apalah aku, hanya manusia yg kurang bersyukur, yg tetap tidak bisa bertahan dalam banyak keluh, Dasar jiwa yg lemah Butuh sandaran Butuh pelukan Butuh ada yg bilang kalau ini semua baik baik saja Hiks Nangis kadang jadi penyembuh luka semalam, bsoknya kambuh lagi Sungguh ingin dipeluk ibu layaknya bayi yg lagi di cup cupin pas nangis Sayangnya aku adalah manusia dewasa yang sudah terlanjur tau bahwa beban ibu lebih berat dariku, yah aku hanya akan menambah beban saja Kenapa dewasa itu berat?