Langsung ke konten utama

Kesempatan

Aku tak mampu mengarang, maka aku bercerita saja~

Kau, 'kamu' ku
Memiliki banyak 'kesempatan' untuk kembali
Tapi kau selalu memilih pergi lebih jauh lagi
Lebih dari setahun lalu ketika kau memberi harap, atau mungkin aku yg menciptakan harapanku sendiri, dia, yang amat cantik itu, yang seimbang denganmu (menurutku), yang tak pernah masuk dalam hitunganku, memutus harapan 'kesempatan' yang aku miliki
Dia yang berharap dan memberikan harapan masa depan untukmu
Sekali lagi, untuk kesekian kalinya, aku berjanji pada diriku untuk tidak menoleh ke arahmu
Waktu itu
Entah apa, tapi kini kisah 'kalian' terlihat kandas
Dia, yang cantik itu, sepertinya amat terluka
Sama, sepertiku yg kesulitan untuk menghapus masa lalu yg indah itu dengan menyayat hati terlalu dalam, hanya menyisakan bekas luka, yg amat dalam pula
Berbeda, karena aku mendapatkan tusukan pisau tertajam itu sudah berkali kali, sehingga bekas luka itu tidak akan hilang, dengan segala obat dan perawatan
Aneh, kenapa harus kamu, hanya kamu, yg bisa mengalihkan duniaku
Beberapa kali aku mengalah, beberapa kali aku juga pergi, seolah tidak perduli
Membenci,
Jijik,
Dengan segala apa-apa yg pernah aku miliki (dari kamu)

Sore ini, bekas luka itu tergores kembali, atas kesalahanku sendiri,
Tidak,
Kurasa ini akibat dia, yg tak kukenal itu, mempertanyakan siapa aku
Kenapa dia harus peduli dgn aku,
Seolah memaksaku berada di pihaknya,
Membuka luka itu kembali,
Dia mencari bekas luka itu,
Aku sendiri menyempurnakan membelah bekas luka itu,
Menunjukkan padanya bahwa
'Jangan salahkan aku, jika akupun kini ingin kembali'
Karena dia lah yg membuka luka yang sudah kututup rapat~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragu

Entah angin apa lagi yang datang malam ini, yang membawa sisa luka kembali. Entah kenapa berkali-kali aku meragu, entah sedang meragukan diriku, atau meragukan dirinya. Entah karena dia pantas untuk diragukan, atau karena bekas sakit yg pernah kurasakan. Aku selalu menginginkan pembuktian tak berujung. Tiba-tiba tanpa sebab, entah firasat, atau hanya perasaan sesat. Yang jelas aku ragu, apakah kamu penipu? Jika kamu adalah orang yg benar, maka tolong ajarkan aku tentang percaya. Karena sepertinya aku sudah lupa bagaimana cara mencintai dengan mempercayai sepenuh hati. Apa memang lebih baik demikian? Bahwa kamu memang pantas diragukan? Hey kamu, sepertinya aku sudah kelewat batas. Tembok pertahananku sudah runtuh. Aku terlanjur menyayangi, Bagaimana ini? Aku benar-benar trauma dikhianati. Aku tidak mau sakit itu terulang lagi. Aku sangat sangat frustasi. Jika kamu adalah laki-laki brengs*k lainnya, maka cukup sudah, mari kita akhiri.

Genap 5 bulan pernikahan

 Hari ini genap sudah 5 bulan pernikahan kami. Banyak orang bertanya, 'bahagiakah?' 'nyamankah?' Mau menuliskan jawabannya saja jariku bergetar, mataku mulai berkaca kaca. Huh. Bahagia. Kata yg sangat kurindukan karena lama tak terucap dari hati. Tentang perbedaan. Ya, ternyata banyak perbedaan. Dan aku berada di kolam perbedaan. Hampir tenggelam. Sudah sulit bernapas.  Teringat pesan salah satu sahabatku, "ingat! Lillahita'ala. Semua yg kita lakukan adalah untuk Allah SWT." Kata kata ini merekahkan senyuman. Bukan menguatkan, bukan. Aku hanya akan pasrah jatuh tenggelam. Aku sudah kehabisan tenaga untuk berenang. Aku sudah sangat lelah. Setidaknya aku tenggelam sambil tersenyum. Aku dalam keadaan tersadar bahwa semua ini datangnya dari Allah SWT. Kupercayakan semua ini padaNya. Aku adalah hamba yg tidak berdaya. Kukira kami kuat berpegangan dan berjuang berenang bersama. Ternyata dia sudah menyerah tenggelam lebih awal. Tersisa diriku sendiri. Jadi untuk ...

Sampah

Rasanya akhir-akhir ini dunia berputar terlalu cepat, Tiba-tiba diatas, dalam sekejap sudah berpindah kebawah, Diangkat ke atas langit secepat kilat, kemudian dijatuhkan ke bumi tanpa siap. Remuk sudah batin yang membatin ini. Terkadang memandang itu lebih mudah daripada melakukan, Sabar, sabar... Ingatkanku pada diri sendiri setiap waktu. Namun, apalah aku, hanya manusia yg kurang bersyukur, yg tetap tidak bisa bertahan dalam banyak keluh, Dasar jiwa yg lemah Butuh sandaran Butuh pelukan Butuh ada yg bilang kalau ini semua baik baik saja Hiks Nangis kadang jadi penyembuh luka semalam, bsoknya kambuh lagi Sungguh ingin dipeluk ibu layaknya bayi yg lagi di cup cupin pas nangis Sayangnya aku adalah manusia dewasa yang sudah terlanjur tau bahwa beban ibu lebih berat dariku, yah aku hanya akan menambah beban saja Kenapa dewasa itu berat?