Langsung ke konten utama

Sesuatu telah pada ujungnya

Ada banyak keganjilan yg sedikit demi sedikit telah menjadi gunung.
Impian-impian yg tersusun rapi, yang kubangun dengan megah namun ternyata tidak kokoh, membuatnya mudah runtuh.
Sekarang, sudah runtuh. Hingga hanya ada kepingan-kepingan kecil yg terlalu rumit untuk disusun kembali.
Hari kemarin, ada begitu banyak rasa berkecamuk di dalam benak. Yang mengantarkanku pada batas ujung pertahanan dan kesabaran. Sudah. Sudah cukup. Sudah jauh pula. Hampir satu tahun. Sudah hingga air mata ku berada di ujung tempatnya. Akan berakhir. Akan kuakhiri.
Segala sesuatu yg buruk dan tidak sehat memang tidak sepantasnya dilanjutkan. Bukan seperti ini impian hidup saya. Hidup ini milik saya sepenuhnya. Maka saya yg berkuasa. Tidak akan lagi mempertimbangkan apa yang orang pikirkan. Karena saya yg tahu, ini buruk. Saya harus segera keluar dari lubang keburukan ini. Saya tidak mau membuat penyesalan di akhir nanti.
Saya datang, membawa segenap diri, mengharapkan segala perubahan ke arah baik, bukan sebaliknya. Bukan baik dari pandangan orang lain. Tapi baik dari dalam, bukan semakin kotor. Terserah. Yg jelas saya menyerah. Dinding pertahanan saya entah sudah runtuh dari kapan. Hingga hati sebagian dikotori rasa benci. Astaghfirullah. Berkali-kali istighfar namun hati tetap kotor. Layaknya bak yg dialiri 'air belet' , mau dikuras setiap menit pun akan meninggalkan sisa. Kenapa kita harus tinggal bersama air kotor jika masih ada air bersih?
Itu kesimpulan hari ini.
Saya akan keluar. Waktu belum saya tentukan. Tapi saya tidak akan ragu melangkah keluar lagi jika pintu kesempatan yg lbh besar itu datang lagi.
Terimakasih membuat saya belajar, hidup memang pilihan.
Saya ingin telinga, mata, mulut, hidung, dan semua indera saya bebas, tanpa perlu ditutup kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragu

Entah angin apa lagi yang datang malam ini, yang membawa sisa luka kembali. Entah kenapa berkali-kali aku meragu, entah sedang meragukan diriku, atau meragukan dirinya. Entah karena dia pantas untuk diragukan, atau karena bekas sakit yg pernah kurasakan. Aku selalu menginginkan pembuktian tak berujung. Tiba-tiba tanpa sebab, entah firasat, atau hanya perasaan sesat. Yang jelas aku ragu, apakah kamu penipu? Jika kamu adalah orang yg benar, maka tolong ajarkan aku tentang percaya. Karena sepertinya aku sudah lupa bagaimana cara mencintai dengan mempercayai sepenuh hati. Apa memang lebih baik demikian? Bahwa kamu memang pantas diragukan? Hey kamu, sepertinya aku sudah kelewat batas. Tembok pertahananku sudah runtuh. Aku terlanjur menyayangi, Bagaimana ini? Aku benar-benar trauma dikhianati. Aku tidak mau sakit itu terulang lagi. Aku sangat sangat frustasi. Jika kamu adalah laki-laki brengs*k lainnya, maka cukup sudah, mari kita akhiri.

Genap 5 bulan pernikahan

 Hari ini genap sudah 5 bulan pernikahan kami. Banyak orang bertanya, 'bahagiakah?' 'nyamankah?' Mau menuliskan jawabannya saja jariku bergetar, mataku mulai berkaca kaca. Huh. Bahagia. Kata yg sangat kurindukan karena lama tak terucap dari hati. Tentang perbedaan. Ya, ternyata banyak perbedaan. Dan aku berada di kolam perbedaan. Hampir tenggelam. Sudah sulit bernapas.  Teringat pesan salah satu sahabatku, "ingat! Lillahita'ala. Semua yg kita lakukan adalah untuk Allah SWT." Kata kata ini merekahkan senyuman. Bukan menguatkan, bukan. Aku hanya akan pasrah jatuh tenggelam. Aku sudah kehabisan tenaga untuk berenang. Aku sudah sangat lelah. Setidaknya aku tenggelam sambil tersenyum. Aku dalam keadaan tersadar bahwa semua ini datangnya dari Allah SWT. Kupercayakan semua ini padaNya. Aku adalah hamba yg tidak berdaya. Kukira kami kuat berpegangan dan berjuang berenang bersama. Ternyata dia sudah menyerah tenggelam lebih awal. Tersisa diriku sendiri. Jadi untuk ...

Sampah

Rasanya akhir-akhir ini dunia berputar terlalu cepat, Tiba-tiba diatas, dalam sekejap sudah berpindah kebawah, Diangkat ke atas langit secepat kilat, kemudian dijatuhkan ke bumi tanpa siap. Remuk sudah batin yang membatin ini. Terkadang memandang itu lebih mudah daripada melakukan, Sabar, sabar... Ingatkanku pada diri sendiri setiap waktu. Namun, apalah aku, hanya manusia yg kurang bersyukur, yg tetap tidak bisa bertahan dalam banyak keluh, Dasar jiwa yg lemah Butuh sandaran Butuh pelukan Butuh ada yg bilang kalau ini semua baik baik saja Hiks Nangis kadang jadi penyembuh luka semalam, bsoknya kambuh lagi Sungguh ingin dipeluk ibu layaknya bayi yg lagi di cup cupin pas nangis Sayangnya aku adalah manusia dewasa yang sudah terlanjur tau bahwa beban ibu lebih berat dariku, yah aku hanya akan menambah beban saja Kenapa dewasa itu berat?