Ada banyak keganjilan yg sedikit demi sedikit telah menjadi gunung.
Impian-impian yg tersusun rapi, yang kubangun dengan megah namun ternyata tidak kokoh, membuatnya mudah runtuh.
Sekarang, sudah runtuh. Hingga hanya ada kepingan-kepingan kecil yg terlalu rumit untuk disusun kembali.
Hari kemarin, ada begitu banyak rasa berkecamuk di dalam benak. Yang mengantarkanku pada batas ujung pertahanan dan kesabaran. Sudah. Sudah cukup. Sudah jauh pula. Hampir satu tahun. Sudah hingga air mata ku berada di ujung tempatnya. Akan berakhir. Akan kuakhiri.
Segala sesuatu yg buruk dan tidak sehat memang tidak sepantasnya dilanjutkan. Bukan seperti ini impian hidup saya. Hidup ini milik saya sepenuhnya. Maka saya yg berkuasa. Tidak akan lagi mempertimbangkan apa yang orang pikirkan. Karena saya yg tahu, ini buruk. Saya harus segera keluar dari lubang keburukan ini. Saya tidak mau membuat penyesalan di akhir nanti.
Saya datang, membawa segenap diri, mengharapkan segala perubahan ke arah baik, bukan sebaliknya. Bukan baik dari pandangan orang lain. Tapi baik dari dalam, bukan semakin kotor. Terserah. Yg jelas saya menyerah. Dinding pertahanan saya entah sudah runtuh dari kapan. Hingga hati sebagian dikotori rasa benci. Astaghfirullah. Berkali-kali istighfar namun hati tetap kotor. Layaknya bak yg dialiri 'air belet' , mau dikuras setiap menit pun akan meninggalkan sisa. Kenapa kita harus tinggal bersama air kotor jika masih ada air bersih?
Itu kesimpulan hari ini.
Saya akan keluar. Waktu belum saya tentukan. Tapi saya tidak akan ragu melangkah keluar lagi jika pintu kesempatan yg lbh besar itu datang lagi.
Terimakasih membuat saya belajar, hidup memang pilihan.
Saya ingin telinga, mata, mulut, hidung, dan semua indera saya bebas, tanpa perlu ditutup kembali.
Impian-impian yg tersusun rapi, yang kubangun dengan megah namun ternyata tidak kokoh, membuatnya mudah runtuh.
Sekarang, sudah runtuh. Hingga hanya ada kepingan-kepingan kecil yg terlalu rumit untuk disusun kembali.
Hari kemarin, ada begitu banyak rasa berkecamuk di dalam benak. Yang mengantarkanku pada batas ujung pertahanan dan kesabaran. Sudah. Sudah cukup. Sudah jauh pula. Hampir satu tahun. Sudah hingga air mata ku berada di ujung tempatnya. Akan berakhir. Akan kuakhiri.
Segala sesuatu yg buruk dan tidak sehat memang tidak sepantasnya dilanjutkan. Bukan seperti ini impian hidup saya. Hidup ini milik saya sepenuhnya. Maka saya yg berkuasa. Tidak akan lagi mempertimbangkan apa yang orang pikirkan. Karena saya yg tahu, ini buruk. Saya harus segera keluar dari lubang keburukan ini. Saya tidak mau membuat penyesalan di akhir nanti.
Saya datang, membawa segenap diri, mengharapkan segala perubahan ke arah baik, bukan sebaliknya. Bukan baik dari pandangan orang lain. Tapi baik dari dalam, bukan semakin kotor. Terserah. Yg jelas saya menyerah. Dinding pertahanan saya entah sudah runtuh dari kapan. Hingga hati sebagian dikotori rasa benci. Astaghfirullah. Berkali-kali istighfar namun hati tetap kotor. Layaknya bak yg dialiri 'air belet' , mau dikuras setiap menit pun akan meninggalkan sisa. Kenapa kita harus tinggal bersama air kotor jika masih ada air bersih?
Itu kesimpulan hari ini.
Saya akan keluar. Waktu belum saya tentukan. Tapi saya tidak akan ragu melangkah keluar lagi jika pintu kesempatan yg lbh besar itu datang lagi.
Terimakasih membuat saya belajar, hidup memang pilihan.
Saya ingin telinga, mata, mulut, hidung, dan semua indera saya bebas, tanpa perlu ditutup kembali.
Komentar
Posting Komentar